Rabu, 05 Desember 2012

Artikel EYD

Penulisan Huruf

A. Penulisan Huruf 

1. Huruf kapital atau huruf besar 

Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:


Kami menggunakan barang produksi dalam negeri.


Siapa yang datang tadi malam?


Ayo, angkat tanganmu tinggi-tinggi!


B. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.


Misalnya:


Adik bertanya, ”Kapan kita ke Taman Safari?”


Bapak menasihatkan, ”Jaga dirimu baik-baik, Nak!”


C. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan nama kitab suci, termasuk ganti untuk Tuhan.


Misalnya:


Allah, Yang Mahakuasa, Islam, Kristen, Alkitab, Quran, Weda, Injil.


Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hambanya.


Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.


D. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.


Misalnya:


Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim, RadenWijaya.


E. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.


Misalnya:


Presiden Yudhoyono, Mentri Pertanian, Gubernur Bali.


Profesor Supomo, Sekretaris Jendral Deplu.


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.


Misalnya:


Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?


Kapten Amir telah naik pangkat menjadi mayor.


Keponakan saya bercita-cita menjadi presiden.


F. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.


Misalnya:


Albar Maulana


Kemal Hayati


Muhammad Rahyan


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.


Misalnya:


mesin diesel


10 watt


2 ampere


5 volt


G. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa-bangsa dan bahasa. Perlu diingat, posisi tengah kalimat, yang dituliskan dengan huruf kapital hanya huruf pertama nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa; sedangkan huruf pertama kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil.


Penulisan yang salah:


Dalam hal ini Bangsa Indonesia yang ….


…. tempat bermukim Suku Melayu sejak ….


…. memakai Bahasa Spanyol sebagai ….


Penulisan yang benar:


Dalam hal ini bangsa Indonesia yang ….


…. tempat bermukim suku Melayu sejak ….


…. memakai bahasa Spanyol sebagai ….


Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.


Misalnya:


keinggris-inggrisan


menjawakan bahasa Indonesia


H. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.


Misalnya:


tahun Saka


bulan November


hari Jumat


hari Natal


perang Dipenogoro


Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.


Misalnya:


Ir. Soekarno dan Drs. Moehammad Hatta memproklamasikankemerdekaan Indonesia.


Perlombaan persenjataan nuklir membawa risiko pecahnyaperang dunia.


I. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.


Misalnya:


Salah


Benar



teluk Jakarta


Teluk Jakarta



gunung Semeru


Gunung Semeru



danau Toba


Danau Toba



selat Sunda


Selat Sunda


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.


Misalnya:


Jangan membuang sampah ke sungai.


Mereka mendaki gunung yang tinggi.


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.


Misalnya:


garam inggris


gula jawa


soto madura


J. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, nama resmi badan /
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:


Departemen Pendidikan Nasional RI


Majelis Permusyawaratan Rakyat


Undang-Undang Dasar 1945


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi lembaga pemerintah, ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.


Perhatikan penulisan berikut.


Dia menjadi pegawai di salah satu departemen.


Menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum.


K. Huruf kapital dipakai sebagai huruf kapital setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/ lembaga.


Misalnya:


Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.


L. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecualikata seperti di, ke, dari, dan, dalam, yang, untuK yang tidak terletak pada posisi awal.


Misalnya:


Idrus menulis buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.


Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.


Dia agen surat kabar Suara Pembaharuan.


Ia menulis makalah ”Fungsi Persuasif dalam Bahasa Iklan Media Elektronik”.


M. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Saudara, Kakak, Adik, Paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.


Misalnya:


”Kapan Bapak berangkat?” tanya Nining kepada Ibu.


Para ibu mengunjungi Ibu Febiola.


Surat Saudara sudah saya terima.


Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan.


Misalnya:


Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita.


Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.


N. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.


Misalnya:


Dr. : doktor


M.M. : magister manajemen


Jend. : jendral


Sdr. : saudara


O. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.


Misalnya:


Apakah kegemaran Anda?


Usulan Anda telah kami terima.


2. Huruf Miring


A. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.


Misalnya:


majalah Prisma


tabloid Nova


Surat kabar Kompas


B. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.


Misalnya:


Huruf pertama kata Allah ialah a


Dia bukan menipu, melainkan ditipu


Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.


C. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang sudah disesuaikan ejaannya.


Misalnya:


Nama ilmiah padi ialah Oriza sativa.


Politik devide et impera pernah merajalela di benua hitam itu.


Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut.


Negara itu telah mengalami beberapa kudeta (dari coup d’etat)


Penulisan Kata


1. Kata Dasar


Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.


Misalnya:


Kantor pos sangat ramai.


Buku itu sudah saya baca.


Adik naik sepeda baru


(ketiga kalimat ini dibangun dengan gabungan kata dasar)


2. Kata Turunan


A. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.


Misalnya:


berbagai ketetapan sentuhan


gemetar mempertanyakan terhapus


B. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.


Misalnya:


diberi tahu, beri tahukan


bertanda tangan, tanda tangani


berlipat ganda, lipat gandakan


C. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.


Misalnya:


memberitahukan


ditandatangani


melipatgandakan

 Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.


Misalnya:


anak-anak, buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk,


mondar-mandir, porak-poranda, biri-biri, kupu-kupu, laba-laba.


Gabungan Kata


A. Gabungan kata yang lazim disebutkan kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.


Misalnya:


duta besar, kerja sama, kereta api cepat luar biasa, meja tulis, orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.


B. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.


Misalnya:


alat pandang-dengar (audio-visual), anak-istri saya (keluarga), buku sejarah-baru (sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda (ayat ibu muda) kaki-tangan penguasa (alat penguasa)


C. Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata.


Misalnya:


acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, halal-bihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan.


D. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.


Misalnya:


adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, inkonvensional, kosponsor,


mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna,


prasangka, purna-wirawan, swadaya, telepon, transmigrasi.


Jika bentuk terikan diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur kata itu


ditulisakan tanda hubung (-).


Misalnya: non-Asia, neo-Nazi


1. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya


Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk singkat kata aku danengkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.


aku bawa, aku ambil menjadi kubawa, kuambil


engkau bawa, engkau ambil menjadi kaubawa, kauambil


Misalnya:


Bolehkan aku ambil jeruk ini satu?


Kalau mau, boleh engkau baca buku itu.


Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini.


Bolehkah kuambil jeruk ini satu?


Kalau mau, boleh kaubaca buku itu.


Kata Depan di, ke, dan dari


Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dandaripada.


Misalnya:


Tinggalah bersama saya di sini.


Di mana orang tuamu?


Saya sudah makan di rumah teman.


Ibuku sedang ke luar kota.


Ia pantas tampil ke depan.


Duduklah dulu, saya mau ke dalam sebentar.


Bram berasal dari keluarga terpelajar.


Akan tetapi, perhatikan penulisan yang berikut.


Kinerja Lely lebih baik daripada Tuti.


Kami percaya kepada Ada.


Akhir-akhir ini beliau jarang kemari.


Kata Sandang si dan sang


Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.


Misalnya:



Salah


Benar



Sikecil


si kecil



Sipemalu


si pemalu



Sangdiktator


sang diktator



Sangkancil


sang kancil



Partikel


A. Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.


Misalnya:


Bacalah peraturan ini sampai tuntas.


Siapakah tokoh yang menemukan radium?


B. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.


Misalnya:


Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya.


Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku.


Bukan hanya saya, melainkan dia pun turut serta.


Catatan:


Kelompok berikut ini ditulis serangkaian, misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.


Misalnya:


Adapun sebab-musababnya sampai sekarang belum diketahui.


Bagaimanapun juga akan dicobanya mengajukan permohonan itu.


Baik para dosen maupun mahasiswa ikut menjadi anggota koperasi.


Walaupun hari hujan, ia datang juga.


C. Partikel per yang berarti (demi), dan (tiap) ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.


Misalnya:


Mereka masuk ruang satu per satu (satu demi satu).


Harga kain itu Rp 2.000,00 per meter (tiap meter). 
 

C. Pemakaian Tanda baca

Tanda titik (.)


A. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.


Misalnya:


Ayahku tinggal di Aceh.


Anak kecil itu menangis.


Mereka sedang minum kopi.


Adik bungsunya bekerja di Samarinda.


B. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab.


Misalnya:


III. Departemen Dalam Negeri


A. Direktorat Jendral PMD


B. Direktorat Jendral Agraria


1. Subdit ….


2. Subdit ….



I. Isi Karangan 1. Isi Karangan


A. Uraian Umum 1.1 Uraian Umum


B. Ilustrasi 1.2 Ilustrasi


1. Gambar 1.2.1 Gambar


2. Tabel 1.2.2 Tabel


3. Grafik 1.2.3 Grafik


Catatan:


Tanda titik tidak dipakai di belakang angka pada pengkodean sistem digit jika angka itu merupakan yang terakhir dalam deret angka sebelum judul bab atau subbab.


C. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu.


Misalnya:


pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)


12.10.20 (12 jam, 10 menit, dan 20 detik)


D. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.


Misalnya:


Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.


Lihat halaman 2345 dan seterusnya.


Nomor gironya 5645678.


E. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.


Misalnya:


Lawrence, Marry S, Writting as a Thingking Process. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1974.


F. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.


Misalnya:


Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang.


Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799.


G. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel.


Misalnya:


Catur Untuk Semua Umur (tanpa titk)


Gambar 1: Bentuk Surat Resmi Indonesia Baru (tanpa titik)


H. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim atau tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.


Misalnya:


Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa titik)


Yth. Bapak. Tarmizi Hakim (tanpa titik)


Jalan Arif Rahman Hakim No. 26 (tanpa titik)


Palembang 12241 (tanpa titik)


Sumatera Selatan (tanpa titik)


Kantor Pengadilan Negeri (tanpa titik)


Jalan Teratai II/ 61 (tanpa titik)


Semarang 17350 (tanpa titik)


Tanda koma (,)


A. Tanda koma dipaki di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.


Misalnya:


Reny membeli permen, roti, dan air mineral.


Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus, memerlukan prangko.


Menteri, pengusaha, serta tukang becak, perlu makan.


B. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.


Misalnya:


Saya ingin datang, tetapi hari hujan.


Didik bukan anak saya, melainkan anak Pak Daud.


C. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.


Misalnya:



Anak Kalimat


Induk Kalimat



Kalau hujan tidak reda


saya tidak akan pergi



Karena sakit,


kakek tidak bisa hadir


Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak itu mengiringi induk kalimatnya.


Misalnya:


Induk Kalimat


Anak Kalimat



Saya tidak akan pergi


kalau hujan tidak reda.



Kakek tidak bisa hadir


karena sakit.



D. Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.


Misalnya:


Meskipun begitu, kita harus tetap jaga-jaga.


Jadi, masalahnya tidak semudah itu.


E. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.


Misalnya:


O, begitu?


Wah, bagus, ya?


Aduh, sakitnya bukan main.


F. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.


Misalnya:


Kata ibu, ”Saya berbahagia sekali”.


”Saya berbahagia sekali,” kata ibu.


Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.


Misalnya:


Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta Pusat. Sdr. Zulkifli Amsyah, Jalan Cempaka Wangi VII/11, Jakarta Utara 10640


Jakarta, 11 November 2004


Bangkok, Thailand


G. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.


Misalnya:


Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia,(Jakarta: Diskusi Insan Mulia, 2001), hlm. 27.


H. Tanda koma dipakai di antara orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.


Misalnya:


A. Yasser Samad, S.S.


Zukri Karyadi, M.A.


I. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.


Misalnya:


Guru saya, Pak Malik, Pandai sekali.


Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih.


Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti praktik komputer.


Bandingkan dengan keterangan pembatas yang tidak diapit oleh tanda koma.


Semua siswa yang berminat mengikuti lomba penulisan resensi segera mendaftarkan namanya kepada panitia.


J. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.


Misalnya:


Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersunguh-sungguh.


Atas pertolongan Dewi, Kartika mengucapkan terima kasih.


K. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.


Misalnya:


”Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta.


”Baca dengan teliti!” ujar Bu Guru.


Tanda Titik Koma (;)


A. Tanda titik koma untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.


Misalnya:


Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual.


B. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.


Misalnya:


Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghapal nama-nama menteri; saya sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.


C. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan.


Misalnya:


Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamong praja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun. 

Sabtu, 01 Desember 2012

PERAN dan FUNGSI BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan , bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai  bahasa nasional ; kedudukannya berada diatas bahasa – bahasa daerah. Selain itu , didalam undang – undang dasar 1945 tercantum pasal khusus ( BAB XV , pasal 36 ) mengenai kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa Negara ialah bahasa Indonesia. Pertama, bahsa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sesuai dengan sumpah pemuda 1928; kedua, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Negara sesuai dengan undang – undang dasar 1945.

Fungsi Bahasa Indonesia

1. Bahasa sebagai alat komunikasi

Melalui Bahasa, manusia dapat berhubungan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya, terutama sesama manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat memikirkan, mengelola dan memberdayakan segala potensi untuk kepentingan kehidupan umat manusia menuju kesejahteraan adil dan makmur. Manusia dalam berkomunikasi tentu harus memperhatikan dan menerapkan berbagai etika sehingga terwujud masyarakat yang madani selamat dunia dan akhirat. Bahasa sebagai alat komunikasi berpotensi untuk dijadikan sebagai sarana untuk mencapai suatu keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia, baik sebagai insan akademis maupun sebagai warga masyarakat. Penggunaan bahasa yang tepat menjadikan seseorang dalam memperlancar segala urusan. Melalui bahasa yang baik, maka lawan komunikasi dapat memberikan respon yang positif. Akhirnya, dapat dipahami apa maksud dan tujuannya.

2. Bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri

Sebagai alat ekspresi diri, bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang, baik berbentuk perasaan, pikiran, gagasan, dan keinginan yang dimilikinya. Begitu juga digunakan untuk menyatakan dan memperkenalkan keberadaan diri seseorang kepada orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.

3. Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

4. Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Fungsi Bahasa Secara Umum

Fungsi umum bahasa indonesia adalah sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa pada dasarnya sudah menyatu dengan kehidupan manusia. Aktivitas manusia sebagai anggota masyarakat sangat bergantung pada penggunaan bahasa masyarakat setempat. Gagasan, ide, pikiran, harapan dan keinginan disampaikan lewat bahasa
.
Selain fungsi bahasa diatas, bahasa merupakan tanda yang jelas dari kepribadian manusia. Melalui bahasa yang digunakan manusia, maka dapat memahami karakter, keinginan, motif, latar belakang pendidikan, kehidupan sosial, pergaulan dan adat istiadat manusia.

Fungsi Bahasa Secara Khusus :

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia secara umum
Istilah kedudukan dan fungsi tentunya sering kita dengar, bahkan pernah kita pakai. Misalnya dalam kalimat “Bagaimana kedudukan dia sekarang?”, “Apa fungsi baut yang Saudara pasang pada mesin ini?”, dan sebagainya. Kalau kita pernah memakai kedua istilah itu tentunya secara tersirat kita sudah mengerti maknanya. Hal ini terbukti bahwa kita tidak pernah salah pakai menggunakan kedua istilah itu. Kalau demikian halnya, apa sebenarnya pengertian kedudukan dan fungsi bahasa? Samakah dengan pengertian yang pernah kita pakai?

Kita tahu bahwa bahasa sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara terlisan maupun tertulis. Ini adalah fungsi dasar bahasa yang tidak dihubungkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Setelah dihubungkan dengan kehidupan sehari - hari, yang di dalamnya selalu ada nilai-nilai dan status, bahasa tidak dapat ditinggalkan. Ia selalu mengikuti kehidupan manusia sehari-hari, baik sebagai manusia anggota suku maupun anggota bangsa. Karena kondisi dan pentingnya bahasa itulah, maka ia diberi ‘label’ secara eksplisit oleh pemakainya yang berupa kedudukan dan fungsi tertentu.

Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipakai oleh pemakainya perlu dirumuskan secara eksplisit, sebab kejelasan ‘label’ yang diberikan akan mempengaruhi masa depan bahasa yang bersangkutan. Pemakainya akan menyikapinya secara jelas terhadapnya. Pemakaiannya akan memperlakukannya sesuai dengan ‘label’ yang dikenakan padanya.

Rabu, 09 Mei 2012

Curhatan Stress

Yuhuuuuuuuuuu......
Mau bikin curhatan Sableng dulu dah. Ga tau kenapa abis bikin tugas di blog buat kampus tercinta kampus G******** (ga boleh sebut merk soalnya kaga dapet royalty iklanin) jadi pingin nulis juga. Bikin tugas segitu banyaknya tapi kaga tau dah bakal diliat apalagi di baca sama dosennya. yah, idup ini emang berat. Bagai ironi diatas ironi, sungguh suatu hal yang begitu absurd buat idup gw.

ya udalah ga perlu bahas masalah itu juga sih, y tapi mau gimana lagi moodnya masih abis ngerjain itu tugas jadi bawaannya bahas itu-itu lagi. Hidup jadi mahasiswa pada saat ini emang berat (liat kalender sekarang jaman apaan). Semua perjuangan emang, mau brangkat kuliah kudu berjuang melawan macet, mau kuliah kudu berjuang lawan dosen yg bikin ngantuk, mau makan kudu berjuang berebut sama orang kelaparan lainya dan desakan ekonomi yang makin parah (dompet kosong). Ya tapi idup ini klo ga berjuang rasanya hambar, kaya makan nasi sama sambel + krupuk doang (combo makanan darurat).Tapi idup juga jangan ngeluh mulu, kita harus bersyukur sama ALLAH SWT masih di kasi idup sampe sekarang juga, masi bisa nyicip bangku sekolah ampe kuliah sekarang (saingan sama rayap kali).

Ya gw sebagai mahasiswa yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan jenius (fitnah semua itu) ga boleh menyerah begitu aj sama arus pergerakan jaman yang semakin menghanyutkan bagai kali lagi bajir. gw harus berusaha menunjukan kalo gw bisa berhasil jadi manusia yang berguna (selama ini bukan manusia kali). Gw pengen jadi anak yang berguna bagi Indonesia ini. seperti kata orang bijak yang ga tau gw liat dimana (mungkin kertas gorengan ato kacang).

"Jangan kamu tanyakan apa yang akan kamu dapatkan dari negeri ini, tapi tanyakan apa yang telah kamu perbuat untuk negeri ini."

Kalimat ini sungguh menggugah semangat gw sebagai mahasiswa ala kadarnya. Udah ah, cape juga gw curhat kaya gini. Pokoknya apapun masalahnya gw tetep doyan TAHU ISI. Yang baca ini bilang garing juga ga masalah. Yang pasti lega gw abis curhat ga jelas kaya gini

Tulisan 10

Pendapatan Nasional 

Pendapatan nasional adalah merupakan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh
masyarakat dalam suatu negara selama satu tahun.

Konsep Pendapatan Nasional
1. PDB/GDP (Produk Domestik Bruto/Gross Domestik Product)
Produk Domestik Bruto adalah jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama satu tahun. Dalam perhitungannya, termasuk juga hasil produksi dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi diwilayah yang Bersangkutan.

2. PNB/GNP (Produk Nasional Bruto/Gross Nasional Product)
PNB adalah seluruh nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu Negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Negara tersebut yang berada di luar negeri.

Rumus :
GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri

3. NNP (Net National Product)
NNP adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam periode tertentu, setelah dikurangi penyusutan (depresiasi) dan barang pengganti modal.

Rumus :
NNP = GNP – Penyusutan

4. NNI (Net National Income)
NNI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima oleh masyarakat setelah
dikurangi pajak tidak langsung (indirect tax)

Rumus :
NNI = NNP – Pajak tidak langsung

5. PI (Personal Income)
PI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima masyarakat yang benar-benar sampai ke tangan masyarakat setelah dikurangi oleh laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan social, pajak perseorangan dan ditambah dengan transfer payment.

Rumus :
PI = (NNI + transfer payment) – (Laba ditahan + Iuran asuransi + Iuran jaminan social + Pajak perseorangan )

6. DI (Disposible Income)
DI adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah siap dibelanjakan oleh penerimanya.

Rumus :
DI = PI – Pajak langsung

Perhitungan Pendapatan Nasional
1. Tujuan dan manfaat perhitungan pendapatan nasional
Tujuan mempelajari pendapatan nasional :
a. Untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu Negara
b. Untuk memperoleh taksiran yang akurat nilai barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat  dalam satu tahun
c. Untuk membantu membuat rencana pelaksanaan program pembangunan
yang berjangka.

2. Manfaat mempelajari pendapatan nasional
a. Mengetahui tentang struktur perekonomian suatu Negara
b. Dapat membandingkan keadaan perekonomian dari waktu ke waktu antar daerah atau antar propinsi
c. Dapat membandingkan keadaan perekonomian antar Negara
d. Dapat membantu merumuskan kebijakan pemerintah.

3. Perhitungan Pendapatan Nasional
a. Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]
b. Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode. Y=r+w+i+p
c. Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun. Y = C + I + G + (X – M)

 Sumber :doc